Tokyo Revengers: Premanisme, Air Mata, dan Time Travel
Tokyo Revengers: Premanisme Apa jadinya jika film Crows Zero bertemu dengan konsep perjalanan waktu ala Erased? Jawabannya adalah Tokyo Revengers. Sejak adaptasi animenya tayang perdana, seri karya Ken Wakui ini langsung meledak menjadi fenomena budaya pop. Jersi geng Tokyo Manji (Toman) terlihat di mana-mana, dan lagu pembuka “Cry Baby” dari Official HIGE DANdism menjadi himne wajib bagi pecinta anime (wibu) di seluruh dunia.
Namun, di balik popularitasnya yang masif, Tokyo Revengers adalah serial yang memecah belah opini penonton. Di satu sisi, ia dipuji karena berhasil menghidupkan kembali genre Yankee (kenakalan remaja Jepang) yang sempat mati suri dengan bumbu fiksi ilmiah yang segar. Di sisi lain, ia dikritik karena kualitas animasi yang terkadang kaku dan karakter utama yang sering membuat penonton frustrasi. Artikel ini akan membedah apakah kisah Takemichi Hanagaki benar-benar layak mendapatkan hype setinggi itu.
Takemichi Hanagaki: Pahlawan Cengeng yang Tangguh
Poin diskusi terbesar dalam seri ini adalah sang protagonis, Takemichi Hanagaki. Berbeda dengan pahlawan Shonen pada umumnya (seperti Luffy atau Naruto) yang perlahan menjadi kuat secara fisik, Takemichi adalah anomali. Ia lemah, tidak pandai berkelahi, dan sangat sering menangis—sehingga mendapat julukan “Crybaby Hero”.
Bagi sebagian penonton, kelemahan Takemichi ini sangat menguji kesabaran. Rasanya ingin berteriak ke layar kaca saat melihatnya ragu-ragu atau babak belur (lagi) tanpa memberikan perlawanan fisik yang berarti. Namun, jika dilihat lebih dalam, justru di situlah letak kekuatan narasi seri ini. Takemichi mewakili kita, orang biasa, yang terjebak di dunia kekerasan monster. Kekuatan super Takemichi bukanlah pukulan maut, melainkan ketahanan mental (resilience). Kemampuannya untuk terus bangkit berdiri meski wajahnya sudah hancur demi menyelamatkan pacarnya (Hinata) dan teman-temannya adalah inti emosional cerita. Ia adalah “karung tinju” yang memiliki hati emas, dan momen ketika ia akhirnya berani melawan arus adalah payoff yang sangat memuaskan.
Pesona Geng Toman: Mikey dan Draken Tokyo Revengers: Premanisme
Jika Takemichi adalah hati dari serial ini, maka Manjiro “Mikey” Sano dan Ken “Draken” Ryuguji adalah jiwanya. Dinamika antara Ketua dan Wakil Ketua Toman ini adalah magnet utama yang membuat penonton betah mengikuti ratusan episode.
Mikey digambarkan sebagai sosok yang kompleks: karismatik, tak terkalahkan dalam pertarungan (“The Invincible Mikey”), namun memiliki sisi gelap dan kerapuhan mental yang berbahaya. Sementara Draken berfungsi sebagai kompas moral yang menjaga Mikey agar tidak jatuh ke lubang kegelapan. Desain karakter mereka yang stylish, loyalitas persahabatan yang kental, dan adegan aksi mereka yang eksplosif berhasil membuat penonton jatuh cinta pada geng motor fiksi ini. Tokyo Revengers sukses meromantisasi konsep persaudaraan geng remaja tanpa sepenuhnya menutupi konsekuensi tragis dari gaya hidup tersebut.
Mekanisme Time Travel dan Plot Twist
Aspek sci-fi dalam Tokyo Revengers sebenarnya sederhana. Takemichi bisa kembali ke masa lalu tepat 12 tahun sebelumnya melalui jabat tangan dengan Naoto Tachibana. Mekanisme ini digunakan sebagai alat untuk menciptakan suspense (ketegangan).
Ken Wakui pandai meramu cliffhanger. Setiap kali Takemichi merasa telah mengubah masa depan menjadi lebih baik, sebuah plot twist terjadi, dan realitas masa depan justru menjadi lebih buruk. Kehadiran antagonis jenius seperti Kisaki Tetta—yang tidak menggunakan otot tapi menggunakan otak licik—menjadikan cerita ini seperti permainan catur berdarah. Penonton dibuat penasaran: “Apa yang salah kali ini?” dan “Siapa pengkhianat sebenarnya?”. Struktur cerita looping (pengulangan) ini memang berisiko terasa repetitif di arc (bagian cerita) pertengahan, namun misteri besarnya cukup kuat untuk menahan penonton tetap duduk manis. (berita sepakbola)
Kualitas Produksi: Antara Stilistik dan Kaku
Sayangnya, dari segi teknis, adaptasi anime oleh Liden Films ini tidak bisa dibilang sempurna. Konsistensinya sering dipertanyakan. Ada momen-momen di mana desain karakter terlihat sangat tajam dan on-point, menangkap gaya seni manga yang unik dengan leher panjang dan mata tajam.
Namun, di banyak adegan pertarungan, animasinya terasa kaku. Sering kali pertarungan hanya digambarkan lewat serangkaian gambar diam (still images) yang digeser (panning), atau efek garis kecepatan (speed lines) yang berlebihan untuk menutupi kurangnya gerakan. Jika dibandingkan dengan anime aksi modern lain seperti Jujutsu Kaisen atau Demon Slayer, koreografi aksi di Tokyo Revengers terasa medioker. Untungnya, kekurangan visual ini sering kali tertutupi oleh tata suara yang luar biasa. Deru suara motor CB250T, suara hantaman pukulan, dan akting suara (voice acting) yang penuh emosi—terutama teriakan putus asa Takemichi—sangat membantu membangun atmosfer.
Sensor dan Kontroversi Simbol Tokyo Revengers: Premanisme
Sebagai catatan tambahan, penonton internasional mungkin menyadari adanya sensor yang cukup mengganggu di musim pertama, yaitu penyensoran simbol Manji (swastika Buddha) pada seragam Toman karena kemiripannya dengan simbol Nazi. Hal ini sering kali menyebabkan framing kamera yang aneh atau cahaya silau yang tidak perlu, yang sedikit mengurangi pengalaman menonton. Namun, ini adalah langkah yang bisa dimengerti untuk distribusi global.
Kesimpulan Tokyo Revengers: Premanisme
Tokyo Revengers adalah rollercoaster emosi. Ia bukanlah anime dengan animasi terbaik, dan protagonisnya mungkin akan membuat Anda kesal setengah mati. Namun, serial ini memiliki “hati”. Ia menawarkan drama persahabatan yang tulus, misteri yang memikat, dan karakter-karakter pendukung yang sangat memorable.
Bagi mereka yang menyukai cerita tentang kesempatan kedua, loyalitas tanpa batas, dan pertarungan jalanan yang penuh darah dan air mata, Tokyo Revengers adalah tontonan wajib. Ini adalah kisah tentang seorang pecundang yang menolak untuk menyerah pada takdir, dan pesan itu tersampaikan dengan sangat kuat.
review anime lainnya ….
